Loading details…
Loading details…
No-wave / art-punk / noise-rock memang lahir dari tangan para mahasiswa jurusan seni angkatan ’78 dari kota New York. Mereka meredefinisi punk-rock dengan memainkannya dalam versi tersendiri, tanpa harus mengikuti aturan baku. Karena punk-rock adalah tentang kebebasan dan pemberontakan terhadap segala pakem-pakem yang berlaku. Sama halnya dengan The Spektakuler (sebuah “super-group” yang merupakan hasil merger dari Black Ribbon dan Demi Tuhan, dua band yang cukup berpengaruh di scene experimental / indie-music di kota Yogyakarta. Individu-individu di dalamnya pun adalah orang-orang yang berdedikasi penuh, entah itu di scene musik independen lokal maupun di scene seni kontemporer lokal), kumpulan seni-boy yang bermain-main dengan media musik, bermodalkan semangat nihilisme punk-rock. Konsep dari The Spektakuler adalah interpretasi musik dari teks dan gambar yang ada di blog http://thespektakuler.tumblr.com. Yang mana teks dan gambar di blog tersebut bertemakan fenomena sosial-politik-ekonomi-budaya lokal yang gagal dan menyimpang. Gimmick ‘kitsch’ yang diciptakan oleh The Spektakuler pun tergolong unik. Ketika band-band industri di televisi berusaha untuk tampil “cool” namun malah berakhir menjadi “alay”. Sementara kasus The Spektakuler adalah sebaliknya, mereka berusaha untuk tampil “alay” tapi berakhir menjadi “cool”! Untuk musik, The Spektakuler menggarapnya memakai konsep jam-band, tapi dengan skill seadanya ala punk-rock: musik tiga kord yang minimalis dan monoton berba