Loading details…
Loading details…
Artist
Tanggal 10 November 2022 ini adalah hari terakhir kami muncul di panggung pertunjukan dengan mengusung nama Melancholic Bitch. (Kami sangat berbahagia bahwa pentas terakhir dengan nama ini, bisa kami berlangsungkan di kota bersejarah ini). Tidak, kami tidak sedang pamit pensiun atau bubar, kami sedang “pindah”. Ijinkan kami mengutarakan alasannya di surat ini; maaf jika surat ini berpanjang-panjang, meminta sabar terlalu lebar. Sebelum nama yang kami (kala itu, Yossy Herman Susilo dan saya) pakai dan melekat sepanjang 20 tahun ini, proyek kerja ini kami namai On Genealogy of Melancholia. Teman-teman di sekitar kami mengeluh karena nama ini menekuk lidah kami di sudut-sudut yang tak jenak. Kami, untuk berapa lama, bergeming. Suatu malam, sahabat saya, rekanan di suatu kelompok pembaca bernama SindikatGagap ApocalypseNow!, setengah bercanda menyoal nama proyek tersebut. “What’s the name again? On the genealogy of what? Melancholia?” Saya senyam-senyum sebelum kemudian dia bilang, “Uh, you’re so melancholic bitch.” Saya terkekeh karena penamaan ini terasa menohok, sekaligus tepat. Sahabat saya ini adalah salah satu orang paling tajam yang pernah saya kenal —nyalang menatap dunia yang tak memberikan ruang bernapas sepatutnya, kala itu dan hingga hari ini. Setengah-bercanda artinya ia setengah serius, dan saya menekuninya dengan sungguh-sungguh. Frasa itu, saya kenakan di bahu saya sebagai suatu tanda penasbihan, penerimaan. Persis sebelum panggung festival musik elektronik,