Loading detailsβ¦
Loading detailsβ¦
Artist
Paduan Suara Dialita, singkatan dari Di Atas Lima Puluh tahun, adalah bunyi merdu dari masa lalu. Bunyi yang dipaksa sunyi oleh rezim penguasa seusai Enam Lima. Paduan suara ini beranggotakan keluarga atau mereka yang pernah ditahan karena tersangkut peristiwa Enam Lima. Mereka yang pernah ditahan, dipenjara, dibuang, diasingkan, dan dibuat melakukan kerja paksa tanpa pernah tahu kesalahannya. Paduan Suara Dialita tidak datang sendiri. Ada beberapa musisi muda lintas generasi yang hadir untuk mengiringi mereka. Saya memohon, dengan segala kerendahan hati, untuk menempatkan nama-nama seperti Frau, Sisir Tanah, Cholil Mahmud, Nadya Hatta & Prihatmoko Catur, Komunitas Kroncongan Agawe Santosa dan Lintang Radittya sebagai sekadar figuran, catatan kaki, sesuatu yang tidak signifikan, untuk bisa menikmati album ini dengan maksimal. Paduan Suara Dialita menghadirkan kembali suara dari dua seniman musik besar Indonesia yang disingkirkan dalam catatan sejarah, Sudharnoto dan Subronto K Atmodjo. Maestro musik, yang meski harus meringkuk dalam kamp kerja paksa di Pulau buru, mereka masih mencipta lagu-lagu merdu untuk mengobarkan semangat hidup. Bernyanyi, berkumpul, bercerita dan berbagi pengalaman untuk bertahan hidup adalah upaya keluarga penyintas untuk merawat harapan. Bernyanyi memberikan mereka suara untuk bicara, untuk didengar. Bahwa mereka masih ada, masih hidup dan menolak dibungkam. Perempuan-perempuan tangguh ini adalah monumen hidup yang selamanya akan diingat oleh seja