Loading details…
Loading details…
Pada awal saya mengorganisir Yes No Klub (acara musik eksperimental yang direncanakan untuk digelar tiap bulan di Yogya), saya meminta rekomendasi talenta muda lokal yang gemar bereksperimen di wilayah musik dan seni suara kepada Krisna Widiathama (Sodadosa, Black Ribbon). Tanpa berpikir lama, Krisna mengajukan sebuah nama band: Asangata. Band ini digagas oleh seorang pemuda tanggung dari pinggiran kota Yogyakarta yang bernama Wednes Mandra. Setelah menyimak penjelasan singkat dari Krisna, tanpa berpikir panjang juga saya mencari-cari tema yang pas untuk mengundang Asangata, yaitu di acara bertajuk Next Trash. Saat pertama berjumpa, tebakan saya cukup tepat. Asangata bermain noise yang dipadukan dengan drone-metal ala Sunn O))) dan digawangi oleh dua pemuda yang jauh dari tipikal remaja urakan dan terlihat bosan dengan semua hal yang berkesan ’sex, drugs & rock n’ roll’. Semenjak itu, kami berteman meski tidak akrab. Beberapa kali saya ingin sekali merilis album rekaman dari proyek-proyek Wednes yang saya suka. Namun apa daya, seluruh album dirilis oleh netlabel miliknya, Pati Rasa Records. Saya masih mencoba mengincar proyek-proyek selanjutnya. Karena saya selalu curiga apa yang dia kerjakan, sebaik apapun, suatu saat akan ditinggalkan begitu saja. Untuk itu, saat Rabu ia munculkan, saya langsung meminangnya. Band ini jauh berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya. Terasa lebih jujur, meski jika dirunut sebenarnya ada tautan dengan karya yang pernah dibuatnya. Fidelitas renda