Loading details…
Loading details…
Konsep “Acronym Wars” muncul saat Danius membaca sebuah buku berjudul “The Politics of Indonesia” karangan Damien Kingsbury. Saat membaca buku ini, ia tak henti-hentinya membolak-balik halaman indeks akronim. Ia menjumpai ribuan akronim dalam buku tersebut. Mulai dari RI, NKRI, ABRI, TNI, RPKAD, PKI, PNI, Masyumi, KORPRI, DOM hingga ribuan akronim lain yang umum dijumpai di Indonesia (FPI, JIL, KFC). Setelah memahami akronim dan plesetan akronim tersebut yang berkembang di masyarakat, kemudian ia menuangkannya dalam tema lagu. Mendengarkan lirik lagu tersebut, kita seolah-olah dihadapkan pada sebuah serbuan yel-yel yang diteriakkan berulangkali. Sebuah rangkuman super-kilat atas diskursus politik, sosial dan budaya di Indonesia. Selain musik, band ini juga dilengkapi dengan aneka ragam medium. Seperangkat gitar dan bass yang berbentuk senapan AK47, M80 dan M16, mikrofon berbentuk geranat tangan, seragam batik bermotif militer, video musik, komik, lukisan, lambang dan pernak-pernik merchandise yang secara keseluruhan mengacu pada tema yang sama. Performa militerisme yang acak-adul merujuk pada milisi gerilyawan ketimbang lembaga militer negara. Peluncuran album dan pameran diselenggarakan di Kedai Kebun Forum pada tahun 2007 dengan tajuk “Permission To Fire/Conspicuous Objects”. Selain tur di Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bandung, PUNKASILA juga menggelar pameran dan pertunjukan di Sydney, Brisbane, Melbourne dan tampil di Tenth Biennale of Havana, Cuba. Video PUNKASILA
Perang Singkatan
Punkasila
TNI
Punkasila
JAKAR/JIL
Punkasila
MANIKEBU
Punkasila
DOM
Punkasila
PNU
Punkasila
KFC
Punkasila
LASKAR JIHAD
Punkasila
KORPRI
Punkasila
TURBA
Punkasila
KOPASSUS
Punkasila
UNJEM/UNJEMBUT
Punkasila
PKI
Punkasila
DEN
Punkasila
BAKORSTANAS/BAKIN
Punkasila
ISI
Punkasila
RPKAD
Punkasila
FPI
Punkasila